Audit Piutang Usaha

Audit Piutang Usaha
Pengertian Piutang Usaha

Piutang usaha timbul dari berbagai jenis transaksi, di mana penjualan barang atau jasa secara kredit adalah yang paling umum. Pinjaman dapat diberikan dalam bentuk perkiraan terbuka atau atas dasar instrumen pinjaman yang sah, sebuah surat utang. Surat promes sering disebut pesanan, dan merupakan janji tertulis untuk membayar sejumlah tertentu berdasarkan permintaan atau pada tanggal yang ditentukan.

Menurut Donald E. Keiso (2004: 386)

“Tagihan adalah tagihan atas uang, barang, jasa dari pelanggan atau pihak lain”.

Menurut Sukrisno Agoes (2004: 173)

“piutang usaha adalah piutang dari penjualan barang atau jasa secara kredit”.

Menurut John J Wild (2005: 260), “Klaim adalah semua klaim dalam bentuk uang kepada entitas lain, termasuk individu, korporasi atau organisasi lain.”

Menurut Mulyadi (2001: 257), dari waktu ke waktu laporan piutang dikirim ke setiap pelanggan di departemen piutang. Pergerakan pendapatan disebabkan oleh transaksi penjualan kredit, penerimaan kas dari debitur, penerimaan dan penghapusan.

Contoh dari piutang usaha menurut Sukrisno Agoes (2004:713) adalah:

1. Piutang Usaha
2. Klaim surat utang
3. Klaim pada karyawan.
4. Klaim bunga
5. Kemajuan
6. Deposit yang dapat dikembalikan (deposit)
7. Klaim lainnya
8. Hibah untuk piutang tak tertagih

 

Tujuan Audit Piutang Usaha

Menurut Sukrisno Agoes (2004: 173), tujuan pemeriksaan taksiran tagihan adalah sebagai berikut:

  • Untuk mengetahui apakah terdapat pengendalian intern yang baik atas debitur dan transaksi penjualan, debitur dan penerimaan kas.
  • Memeriksa keabsahan dan keaslian klaim.
  • Investigasi terhadap pemulihan (kemungkinan penagihan) debitur dan apakah penyesuaian nilai yang diperkirakan (penyesuaian nilai) sudah memadai.
  • Untuk menentukan apakah kewajiban kontinjensi terdiri dari pendiskontoan debitur.
  • Memverifikasi bahwa penyajian akun-akun di neraca telah sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia / standar akuntansi keuangan.

 

Prosedur Audit Piutang Usaha

Menurut Sukrisno Agoes (2004: 125), prosedur audit adalah “langkah-langkah yang harus dilakukan auditor selama pelaksanaan pengujian dan sangat dibutuhkan oleh asisten agar tidak menyimpang dan bekerja secara efisien dan efektif”. Prosedur audit dilakukan untuk memperoleh bukti audit yang cukup untuk mendukung opini auditor atas ketepatan laporan keuangan tahunan.

Sukrisno Agoes (2004: 176) mengusulkan prosedur audit untuk akun perdagangan sebagai berikut:

  • Pemeriksaan dan penilaian pengendalian internal atas piutang dan transaksi penjualan, piutang dan penerimaan.
  • Membuat top schedule dan support schedule untuk pelanggan pada tanggal neraca.
  • Menanyakan jadwal jatuh tempo debitur untuk tanggal neraca, yang meliputi nama nasabah (nasabah), saldo debitur, usia debitur dan, jika mungkin, tagihan selanjutnya.
  • Periksa kebenaran matematis dan periksa saldo individu untuk subbuku dan kemudian saldo total untuk buku besar.
  • Uji umur debitur pada berbagai nasabah pada sasis debitur dan faktur penjualan.
  • Kirim konfirmasi pelanggan:
    1) Menentukan dan menuliskan dasar pemilihan nasabah kepada siapa surat konfirmasi akan dikirimkan.
    2) Putuskan apakah Anda ingin menggunakan afirmasi positif atau afirmasi negatif.
    3) Cantumkan nomor konfirmasi baik dalam daftar klaim maupun dalam surat konfirmasi.
    4) Jawaban konfirmasi yang berbeda harus diberikan kepada pelanggan untuk mengetahui apa perbedaannya.
    5) Buat ikhtisar (ringkasan) dari hasil konfirmasi
  • Pengendalian penagihan selanjutnya dengan memeriksa buku kas dan penerimaan kas untuk periode setelah tanggal neraca sampai pekerjaan lapangan selesai (test fieldwork). Perhatikan bahwa hanya penjualan yang dicatat sebagai penagihan berikutnya yang berhubungan dengan penjualan dari periode pelaporan.
  • Pemeriksaan faktor yang didiskontokan untuk kemungkinan kewajiban kontinjensi.
  • Melihat dasar penentuan penyesuaian nilai piutang tak tertagih dan melihat apakah jumlah yang diberikan oleh klien cukup, dalam arti tidak terlalu besar atau terlalu kecil. Sumber Rangkuman Terlengkap : https://www.seputarpengetahuan.co.id/